Hei, Apa Kabar?

Kepada yang telah lama jatuh...


Semoga sapaan "apa kabar" tak menjadi asing, setelah bertahun-tahun lamanya tak kudengar kau mengucapkannya.

Haruskah aku yang menggantikan peran itu? Semenjak kau terlalu sibuk berlarut-larut dalam kemelut yang entah kapan terurai dari kepala. Kau bahkan tak lagi bisa membedakan mana yang seharusnya kau pilah dan mana yang perlu kau abaikan saja.

Tidakkah kau merasa penat? Entah sejak kapan kau mulai senang memelihara segala suara-suara bising itu di kepalamu. Aku saja merasa sesak melihatmu. Setiap kali kau mulai mengabaikan dunia, dan menghilang ke dalam kumpulan itu semua. Aku berani bertaruh sesungguhnya kau tenggelam dan susah payah kembali ke permukaan. Apa aku benar?

Kali ini aku semakin takut jika kau masih saja terjebak. Bukankah jalan keluar seharusnya mudah? Seringan tawa-tawa yang terurai lewat sebuah suka cita. Kau hanya perlu mengabaikan saja segala berisik di kepala, dan bertopanglah pada sebuah suara yang datangnya dari dirimu yang paling dalam. Suara hati, mereka menyebutnya.

Kuharap kau tak lupa, bahwa misi di waktu-waktu yang kau habiskan setahun terakhir adalah menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang selama ini tak kau paham. Menemukan alasan untuk segera berdamai dengan dirimu yang selalu membayang ragu. Lantas, sudahkah kau dapat jawabannya? Sudahkah kau berteman dengan kedamaian?

Seperti yang didengungungkan orang-orang bijak, bahwasanya jawaban yang kau cari haruslah kau temukan dalam dirimu sendiri. Barangkali kau lah yang selalu menjadikannya rumit. Sebab kadang-kadang justru hal-hal sederhana gampang sekali berubah menjadi sulit, terlebih jika kau berlama-lama dengan seluruh isi kepala yang kian lama kian asing. Karenanya, mari kita buat ini menjadi mudah.

Ada banyak sekali hal menyenangkan terlewat begitu saja, padahal aku tahu kau selalu menikmati setiap kesempatan itu. Semisal waktu-waktu sendiri bersama setumpuk bacaan kesukaan, larut bersama angin dan suara hujan, atau pada malam-malam hening; waktu terbaik untuk menebak-nebak masa depan. Pun begitu banyak memori yang bisa kau ciptakan bersama mereka yang berada di lingkaran. Tidakkah kau merasa telah banyak mencipta kenangan indah?

Setelah hari ini, kuharap langkahmu kembali ringan. Supaya aku mudah menebak bagaimana ritmemu yang tak berarturan. Dan kita akan kembali beriringan dengan kebebasan yang terbentang luas dan tak lagi terikat oleh kepala sendiri. Aku ingin segera kembali utuh, begitupun dengan harapku terhadapmu. Akan menyenangkan sekali jika nanti kita mencipta jejak semau kita. Kita dapat mengulang lagi dan lagi jika yang kita ukir tak sesuai keinginan, dan memolesnya agar serupa impian.

*
Dari sebuah pikiran (semoga) waras yang selalu kupelihara. Hei, selamat bertambah usia. 
.
.
30 Maret 2020
Ranne~

Komentar