Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan; Pertemuan

Pemuda itu tampak sibuk dengan dirinya sendiri di bangku paling pojok taman belakang gedung Fakultas Seni Rupa. Beberapa lembar kertas menggambar berserakan di meja bersama peralatan menggambar lainnya. Setelah kuperhatikan ternyata dia sibuk bersungut-sungut membereskan barang-barangnya agar tidak terkena hujan.

Sudah hampir pukul enam, dan tak ada orang lain di sini selain dia. Yah, tentu saja aku juga di sini. Terjebak karena hujan turun tiba-tiba saat aku dalam perjalanan pulang mengambil jalan pintas ke fakultas sebelah. Taman ini tidak begitu luas, hanya ada empat meja lingkaran masing-masing dengan empat bangku kayu. Yang paling penting taman ini beratap, tentu saja.

Sepertinya dia tak menyadari kehadiranku yang hanya berjarak satu meja dengannya, lantaran masih sibuk menggerutu. Yah, aku juga tidak peduli sebenarnya, toh aku tidak kenal juga. Beberapa kali aku melihatnya sangat gusar sekali seperti terganggu. Gerutuannya juga masih saja terdengar.

Dia kenapa, sih? Lama-lama aku yang terganggu karena tingkahnya bahkan mengalahkan suara hujan. Aku berdehem keras, berhasil menarik perhatiannya.

Ia terlihat sedikit terkejut akan kehadiranku, namun langsung mengacuhkanku dengan wajah menyebalkan. Sekarang ia menatap ke arah cucuran hujan dari atap taman ini dengan pandangan kesal.

Apa-apaan dia? Terganggu denganku, eh? Bahkan aku tidak mengusiknya sama sekali.

Setengah jam sudah berlalu, dan hujan sudah berupa rinai-rinai tipis. Lebih baik aku pulang saja daripada terjebak lama-lama dengan pemuda aneh itu.

"Kalau-kalau kau salah paham, aku tidak suka hujan," ujarnya tiba-tiba saat aku berdiri.

Aku menoleh, dia cepat-cepat melempar pandangannya ke arah lain--masih dengan wajah sebal. Sudahlah, tetap saja dia aneh.

Aku mulai berlari-lari kecil menjauhi taman. Ternyata aku tak terlalu basah. Entah dorongan apa, aku berbalik badan dan melihat pemuda itu belum beranjak juga. Wajahnya masih menunjukkan sebal. Baru kali ini aku bertemu orang seperti itu, apa tadi katanya, benci hujan, eh?

Aku kembali berlari dan membuang jauh-jauh pikiranku tentang pemuda itu.

.
.

Sijunjung, 10 April 2020
Ranne~

Komentar

Posting Komentar