Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan; Puisi
![]() |
| source: pinterest |
"Ada yang telah terluka begitu besar, hingga dia diam-diam menutup diri dari apapun yang berpotensi mengulang lukanya,"
"Ada yang juga terluka, tapi mencoba cara lain untuk menghilangkan sakit yang dirasanya,"
"Ada juga yang lukanya belumlah sedalam itu, tapi merasa dunianya jatuh dan perih bersama lukanya,"
Aku mengangkat kepala dari halaman buku kumpulan karya puisi entah siapa yang menulis ini. Aku langsung mendongak ke pemuda di depanku. "Bagaimana menurutmu?"
"Huh?"
Responnya acuh seperti biasa. Aku memutar bola mata. Lama-lama aku meragukan niatnya bergabung di komunitas ini. Ya, kami sedang membahas puisi ini, bagian dari kerjaan untuk bahan minggu ini. Aku kebagian untuk mencari referensi dan dia nantinya akan menggambar ilustrasi.
"Aku tak suka dari manapun yang kau baca," ujarnya datar. Aku ingin sekali menimpuknya pakai buku ini. Ini sudah buku ketiga.
Tiba-tiba aku ingat buku kumpulan puisi yang tadi dibahas teman-temanku di kelas sewaktu kuliah. Ah, aku sempat mengambil gambarnya tadi di ponsel. Segera kubuka folder galeri dan langsung menunjukkan ke depan muka pemuda ini.
"Yasudah, kalau kita membahas buku ini saja kurasa kau tidak akan banyak omong!"
Dahinya berkerut melihat layar ponselku. Dalam hati aku tertawa jahat. Rasakan itu, huh! Buku puisi yang kumaksud berjudul Hujan Bulan Juni oleh penyair legenda negeri ini.
Dia diam saja. Kuanggap tanda setuju walau matanya memelototiku hahaha aku tidak peduli. Sudah kuputuskan besok akan kucari bukunya dan kubacakan keras-keras di depan wajahnya.
.
.
Sijunjung, 2 April 2020
Ranne

Komentar
Posting Komentar