Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan; A Tale
![]() |
| source: pinterest |
Sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda pemburu yang terluka. Gadis itu segera menolongnya dengan meracik ramuan dari dedaunan yang berkhasiat obat. Dalam beberapa hari pemuda itu sembuh, dan mereka menjadi teman baik.
Sembari berburu, si pemuda sering membantu gadis itu memetik bunga. Sang pemuda juga belajar tentang tetumbuhan atau bunga-bunga. Sebaliknya si gadis juga dikenalkan dengan dunia perburuan dan bagaimana menghindari hewan buas. Mereka menjadi teman baik, saling berbagi pengetahuan dan saling membantu pekerjaan juga kadang-kadang.
Sampai ketika, gadis itu tak lagi menemukan si pemuda di hutan berburu seperti biasa. Padahal tak sekalipun ia tak datang. Kalaupun terlambat dari pertemuan, biasanya pemuda itu mengabarinya di awal.
Esoknya dan esoknya lagi masih sama. Bahkan di hari-hari berikutnya juga tak ada lagi si pemuda. Ia juga tidak tahu kemana harus bertanya tentang si pemuda, kalau-kalau dia sedang sakit dan tak bisa berburu dan menghilang begitu saja.
Tiba-tiba saja gadis itu menjadi amat kesepian. Pemuda yang belakangan sudah menjadi temannya, membuat hari-harinya merangkai bunga dipenuhi dengan warna-warna lainnya dari si pemuda. Gadis itu merasa bahagia. Namun sekarang, hilangnya si pemuda benar-benar membuat suasana hatinya muram berkepanjangan. Pekerjaannya merangkai bunga pun menjadi terbengkalai..
"Hah! Di zaman seperti ini masih ada perempuan seperti gadis itu? Aku lebih baik dikutuk menjadi serangga daripada memilih hidup menyedihkan seperti gadis karena memikirkan si pemuda!" aku kehabisan napas karena kesal.
"Bukankah hidupnya sebelum ketemu pemuda itu baik-baik saja? Kenapa pula harus menyiksa dirinya dengan cara begitu!" aku masih mengomel tidak jelas.
"Bagaimana bisa cerita seperti itu masih eksis? Dan mengapa pula aku membaca cerita seperti itu?!" aku nyaris nyaris berteriak sekarang.
"Oh, tak bisakah kau diam saja?"
Aku tersadar bahwa aku tak hanya sendiri di sudut perpustakaan ini. Pemuda di meja sebelahku melemparkan pendangan sebal kepadaku. Ia menutup halaman bukunya dengan kasar. Tampak sekali terganggu karena ulahku.
Aku langsung menyengir minta maaf. "Aku lupa akan kau hahaha," tawa garingku disambut raut sebalnya yang berubah tatapan menusuk. Oh, tatapan itu lagi, apa dia pikir aku ini hujan siang bolong?!
Aku menutup blog sumber cerita tadi dan buru-buru mematikan komputer di depanku.
"Ayo kita langsung ke sekretariat saja," ajakku. Tanpa menjawabku, ia membereskan barangnya dan langsung berdiri. Aku yakin dia jengkel sekali kepadaku. Sudahlah.. aku sudah terbiasa dengan tabiatnya seperti ini, lebih-lebih ketika hujan turun dan lihat saja dia berkali-kali lipat memyebalkannya dari pada ini.
Ia meninggalkanku berjalan duluan keluar perpustakaan.
.
.
Sinjunjung, 4 April 2020
Ranne~

Sebenarnya mereka siapa sih?
BalasHapus