Clara

Dear, Clara...

pict: fotonya berempat karena gaada berdua

Pertama kali kita bersua adalah pada serangkaian tes yang juga mempertemukan kita bersama teman-teman lain sebagai peserta. Dua hari saja, tak lebih. Aku masih mengingat celetukan tentang pers mahasiswa lah yang tiba-tiba menarik minatku untuk mengobrol denganmu. Sebuah nostalgia singkat dan "identitas" yang sama kala masih bergelut dengan kegiatan kuliah dulu, begitu saja menjadi gerbang untuk memulai obrolan dengan orang baru. Setidaknya itu berlaku buatku yang serba sulit membuka percakapan.

Sayangnya, kau memilih jalur berbeda pada perjalanan yang sama-sama kita jalani setahun belakang. Pertemuan kita saat itu benar-benar berhenti di dua hari saja. Barangkali perjumpaan semacam itu tidaklah menjadikan orang-orang lantas akrab atau sangat dekat. Pun begitulah kita seharusnya. Yang terjadi, kita cukup sering berbagi kabar bersama teman-teman lain juga. Ya, bertukar cerita tentang kegiatanmu dengan kawan-kawan seperjuanganmu, begitu juga kami. Selain itu, pada kalimat-kalimat yang kau tinggalkan pada postingan, percakapan-percakapan singkat kita lewat pesan, ajaibnya ampuh terhadap lelahnya pikiran di saat-saat tertentu. Seketika aku kembali diingatkan bahwa ada teman-teman lain yang juga berjuang, termasuk kau yang berada di provinsi berbeda.

Setelah usai tugas pun kita masih belum berkesempatan untuk bertemu. Ketika aku akhirnya ke Palembang, kau masih di Lampung menunggu waktu kepulangan. Saat aku baru saja kembali dari Jogja-Bandung dan singgah di Palembang lagi sebelum akhirnya pulang, kau mengirim pesan bahwa sedang perjalanan ke Bandung kemudian lanjut ke Jogja. Lucu ya, tetap saja kita seolah-olah datang ke tempat yang sama, tapi tetap saja belum bersua.

Ra, perihal masa-masa dukamu di hari-hari belakang, rasanya membuatku turut merasakan pilu. Padahal aku tidak benar-benar mengenalmu dan dia. Hanya ada sedikit cerita darimu, sisanya lewat cerita di postinganmu. Di mataku kau sungguh-sungguh seorang yang kuat. Tidak mudah berdamai dengan suatu kehilangan, terlebih dia sangat-sangat berarti dia hidup kita. Tapi kau menunjukkan sikap yang hebat menurutku. Entah, bagaimana sesungguhnya prahara itu di dalam dirimu. Yang jelas, apa yang kau munculkan ke luar, masihlah seperti Clara yang kukenal dengan kalimat-kalimat sarat maknanya.

Ah, tulisan ini menjadi berputar-putar tidak jelas seperti kebiasaanku. Padahal aku menulis ini ingin melunasi janjiku yang barangkali saja kau tak ingat. Ini adalah sebuah hal kecil bagi mereka yang bertambah usianya, meski harusnya kutulis untukmu tahun lalu ketika kita masih berada di lingkaran yang sama hehe tak apa yaa jika sekarang jadinya. Selamat bertambah usia (yang terlambat), Clara. Segala doa-doa baik tetuang kepadamu. Semoga sehat dan bahagia selalu.

.
.

Sijunjung, 21 Mei 2020
Ranne~

Komentar