Sebuah Kenang

Kepada teman seperjalanan satu tahun belakang... 

pict: hari-hari menjelang kepulangan

Terlepas dari segala raut wajah yang mengemuka saat kita bersama, segala ujar yang mungkin tak seharusnya didengar, segala sikap yang barangkali letaknya kurang tepat, aku sungguh bersyukur pernah dipertemukan.

Hari-hari yang telah terlewat adalah memori. Tersimpan dengan bermacam warna dan kenang yang menghiasi, aku masih menyimpannya dengan rapi, hingga kini.

Barangkali tak selalu jalan kita mudah. Tak semua waktu kita dihabiskan dengan tawa. Pun tak sedikit setiap momennya kita hiasi dengan bermacam luka hingga air mata. Bagaimanapun, kita tak dapat mengatur segala hal sesuai dengan harapan kita, bukan?

Mungkin pendapat ini aneh, terkadang beberapa momen yang seharusnya tak istimewa, namun tinggal lama di kepala. Ya, bagiku kenangan itu berhak disimpan, sebab ada kalanya dengan membukanya kembali menjadi penawar bagi kita yang ingin mengulang lagi.

Rupa-rupa bahagia mendapat tumpangan setiap pulang-pergi sebuah pertemuan, dan juga respon positif dari orang-orang yang mendengarkan segala yang kita keluhkan.

Saling berkisah tentang sekolah dan desa, juga berkeluh kesah perihal masalah-masalah yang bermacam bentuknya.

Suara-suara berisik dan saling bully di lorong kamar asrama, yang dua bulan terakhir pindah ke kontrakan yang kita namai akuarium, sebab kita adalah Geng Ikan. Ah, aku ingat betapa bersemangatnya kita memilihkan jenis-jenis ikan untuk kemudian kita sematkan di masing-masing nama. Ehem, mempublikasikannya adalah ideku, barangkali saja sebagian dari kita sebenarnya tak suka, aku minta maaf ya, hehe.

Bus-bus yang seolah bagian penting segala aktivitas kita, travel, "taksi" atau mobil pick-up yang kerap menumpangi setiap kegiatan bersama kita, melahirkan lelucon tentang betapa "masa muda" kita banyak dihabiskan di perjalanan saja. Hei, setidaknya itu patut kita syukuri kan melihat kondisi sekarang ini yang sama sekali tak memungkinkan keluar rumah.

Hari-hari kita seperti zombie terjadi ketika begadang sampai larut malam mengerjakan bermacam laporan, dan pagi-pagi sekali harus sudah ready dalam pertemuan. Pun ketika terlibat dalam kepanitiaan sebuah kegiatan. Berebut mandi dengan fasilitas yang sungguh timpang sekali dengan jumlah kita, yang akhirnya berujung dengan merusuh subuh-subuh ke rumah Selly. Betapa luar biasa sekali si Ibu tidak terganggu dengan seringnya kita ke sana.

Ah, banyak sekali jika diuraikan satu per satu. Juga banyak yang tak seharusnya diungkap lagi ke permukaan, sebab berujung pada lelahnya hati jika diingat kembali. Sudah lama aku berjanji kepada diri sendiri bahwa seburuk apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menyesal pernah melewatinya. Hal yang sama berlalu untuk segala patah dan jatuh yang juga kualami sepanjang perjalanan lalu. Kini, segalanya tersisa serupa memori selayaknya buku. Tentu saja kalimatnya tidak melulu berisi dengan hal-hal indah, bukan?

Bagi seseorang sepertiku yang berasal jauh dari sebagian besar kalian, aku menyimpan harap agar kelak dipertemukan dengan kalian kembali. Juga dengan orang-orang baik yang sangat membantu selama perjalananku kala itu. Semoga kalian dan mereka dalam lindungan Tuhan selalu.

.
.

Sijunjung, 5 Mei 2020
Ranne~

Komentar

  1. Terimakasih untuk satu tahun lebih yang lalu, terimakasih baktinya untuk sumsel, khususnya muara enim. Tidak menyesal mengenal sosok yg aneh namun fantastic,. Lelucon yg anehmupun kadang membuat kami tertawa. Terimakaish untuk drama2 yang kita ciptakan walapun kadang gak penting. Dan permusuhan yang hilang begitu saja ketika bertemu kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei, makasih udah mampir wkwk even I dont know who you are 😅
      Terima kasih banyaaaak waktu setahun belakang dan memaklumi diriku yang aneh begini.
      Salam baso ikan 🐡 *kangen nongky murmer

      Hapus
  2. Di tunggu cerita selanjutnya rantiiii... 😍

    BalasHapus
  3. Thank you for being a part of my life story. For the first time I met the Venus girl. Miss U so bad Rantang. Hahahahah.

    BalasHapus

Posting Komentar